KABAR | PROFIL

Kembangkan Model Pembelajaran Shalat di Sekolah Alam, Muhammad Furqon Raih Gelar Doktor PAI

SKIH / ISTIMEWA

Kembangkan Model Pembelajaran Shalat di Sekolah Alam, Muhammad Furqon Raih Gelar Doktor PAI

Mahasiswa Program Doktor Pascasarjana Pendidikan Agama Islam UID, Muhammad Furqon, Bertempat Aula Masjid Bab Al Rusidy, Kampus Universitas Islam Jakarta pada Kamis 13 Agustus 2026, berhasil mempertahankan Desertasinya didepan Dewan Penguji, dan tema yang diangkat adalah "PENGEMBANGAN MODEL PEMBELAJARAN SHALAT DALAM MENJAGA KONSISTENSINYA PADA SISWA DI SEKOLAH ALAM INDONESIA", dengan pertanyaan yang tajam dan kritikan penguji, namun Promovendus Muhammad Furqon mampu menjawab dengan baik, hingga sukses meraih gelar Doktor Pendidikan Agama Islam sebagai Lulusan yang ke 95 program Doktor Universitas Islam Jakarta.

Penelitian Promovendus Muhammad Furqon berjudul "Pengembangan Model Pembelajaran Shalat dalam Menjaga Konsistensinya pada Siswa di Sekolah Alam Indonesia". Latar belakang penelitian merespons fenomena "disiplin semu", tingginya literasi figih kognitif siswa/siswi tidak linier dengan konsistensi ibadah mandiri di luar pengawasan sekolah.

Pada urgensi pengembangan model bagaimana meningkatkan kualitas Shalat anak, dengan pertanyaan penelitian mengenai rekonstruksi materi, strategi, evaluasi, serta pengujian efektivitasnya. Tujuan penelitian adalah menghasilkan model dan menguji efektivitasnya secara empiris. Secara teoretis, penelitian ini memperkaya diskursus Psikologi Pendidikan Islam terkait spiritual self-regulation, secara praktis menghasilkan Modul Ajar untuk Guru yaitu Intervensi Peningkatan Tuma ninah Siswa yang digunakan guru sebagai pedoman dalam merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi pembelajaran shalat, sedangkan siswa berkedudukan sebagai penerima intervensi pembelajaran. Landasan teoretis dibangun melalui sintesis Teori Behaviorisme (pembiasaan fisik) dan Konstruktivisme (internalisasi makna) yang dikalibrasi dengan nilai Al-Ouran dan Hadits.

Dalam pembahasan, model berpengaruh positif setelah intervensi menumbuhkan sikap para siswa/siswi agar mau mengerjakan Shalat dengan kesadaran diri sendiri meskipun tidak disuruh orang lain, Jean Piaget dan Imam Al-Ghazali menyatakan bahwa internalisasi rasionalisasi hikmah, adalah kunci mutlak pembentukan kesadaran spiritual intrinsik, sekaligus membantah dan menyempurnakan temuan peneliti terdahulu seperti Ayi Rahmawati (2025) yang mengasumsikan bahwa habituasi fisik dan pembiasaan semata sudah cukup memadai, di lain pihak disertasi ini membuktikan bahwa pada jenjang pra-remaja, habituasi mutlak membutuhkan rasionalisasi hikmah guna mencegah terjadinya disiplin semu. Kesimpulannya, model ini efektif membangun kemandirian ibadah otonom.

Disarankan agar institusi pendidikan mengadopsi modul ini dalam kurikulum matrikulasi, serta guru PAI bertransformasi menggunakan pendekatan rasional-logis, dengan model pembelajaran yang telah dikembangkan ini akan membuat para siswa walaupun tidak diawasi oleh pihak sekolah yaitu guru, namun dia di rumah juga memiliki kesadaran untuk melakukan shalat secara sendiri, modul ini yang saya modifikasi dari yang sebelumnya itu adalah pemasukan nilai-nilai refleksi atau kesadaran diri.

saya mencoba memasukkan bagaimana para siswa itu agar mereka Paham tentang makna-makna, orang tua melaporkan bahwa shalat mereka sekarang sudah tumaninah atau sudah tidak tergesa-gesa hingga mengikuti rukun shalat seperti yang kita harapkan, ungkap Dr Muhammad Furqon.

Usai sidang Doktor, Kepala Prodi Program Doktor Universitas Islam Jakarta, Prof. Dr Dede Rosyada MA mengungkapkan bahwa pengembangan Model Pembelajaran Shalat dalam menjaga konsistensinya pada siswa di sekolah alam Indonesia, merupakan Kolaborasi antara sekolah dengan orang tua, bagaimana agar anak memiliki konsistensi dalam menjalankan kewajiban Shalat, dan orang tua itu menjadi 4 kolaborator, sehingga anak menjadi behavior atau berperilaku baik, ungkapnya. (Red)

Penulis: Priyono
Editor: Priyono

Now Trending