KABAR | PROFIL

Ahmad Zuhdi Raih Gelar Doktor Pendidikan Agama Islam dari UID dengan Cumlaude

SKIH / ISTIMEWA

Ahmad Zuhdi Raih Gelar Doktor Pendidikan Agama Islam dari Universitas Islam Jakarta dengan Cumlaude

Pendidikan merupakan hal mendasar yang sangat dibutuhkan setiap insan sebagai salah satu modal agar dapat berhasil dan meraih kesuksesan dalam kehidupannya dan kesuksesan di akhirat kelak menggapai surga Allah SWT. Dan di antara modal untuk meraih kesuksesan tersebut, yaitu beriman, berilmu, bertakwa, dan berakhlak mulia melalui pendidikan seumur hidup (long life education). sebagaimana yang tercantum dalam Undang-Undang Dasar (UUD) 1945, Pasal 31, Ayat 3: Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan - satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan Undang-undang.

Membaca dan menulis merupakan kunci yang dapat membuka gerbang ilmu, sehingga memiliki kemampuan literasi memadai merupakan syarat kemajuan suatu bangsa. Berdasarkan data Institut Statistik UNESCO (UIS), tingkat literasi global pada alangan orang dewasa, hal tersebutlah yang membuat Mahasiswa program Doktor(S3) Universitas Islam Jakarta, Ahmad Zuhdi melakukan penelitian guna meningkatkan pembelajaran Pendidikan Agama Islam, khususnya di Pesantren.

Dan dalam sidang terbuka guna memperoleh gelar Doktor Pendidikan Agama Islam pada Program Pascasarjana, Universitas Islam Jakarta, Ahmad Zuhdi mengangkat Tema dalam Desertasinya yaitu "PENGUATAN BUDAYA LITERASI DI KALANGAN SANTRI DALAM MENINGKATKAN KEILMUAN DAN KARAKTER DI PESANTREN"

Ahmad Zuhdi mengungkapkan bahwa tujuan penelitian tersebut untuk mengeksplorasi Budaya Literasi di Pesantren, dengan menganalisi relasi keilmuan dan karakter yang dihasilkan melalui literasi, dan memformulasi konsep budaya literasi. Latar belakang penelitian berangkat dari disparitas yang cukup dalam. Ada negara dengan budaya literasi mencapai 100 persen, seperti Finlandia dan Norwegia. Ada juga negara dengan literasi di kisaran 30 persen, seperti Nigeria, Guinea, Sudan Selatan, Mali, Republik Afrika Tengah, Somalia, dan Afghanistan. Dan Indonesia dari 208 negara menempati posisi ke-100 dengan literasi mencapai 95,44 persen, masih tertinggal dengan Singapura, Brunei, dan Filipina.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi untuk mengeksplorasi secara mendalam esensi pengalaman hidup (Lived experience) santri terkait praktik literasi di lingkungan pesantren. Pemilihan Pesantren Persis 99 Rancabango di Garut sebagai sumber primer dan Pondok Pesantren Daarul Rahman di Jakarta sebagai lokus sekunder didasari oleh karakteristik unik keduanya dalam merepresentasikan dinamika literasi pesantren di lingkungan Persatuan Islam (Persis) dan Nahdlatul Ulama (NU).

Peneliti melakukan triangulasi dengan Pesantren Persis 69 Matraman Jakarta sebagai instrumen penilaian, pengayaan, dan penguatan hasil penelitian. Tahap awal dalam pengolahan data adalah reduksi data. Setelah reduksi data, langkah berikutnya dalam model analisis Miles dan Huberman adalah penyajian data (data display) untuk melakukan analisis hubungan antar variabel secara mendalam. Setelah analisis relationship, peneliti menginterpretasi hasil tersebut guna merumuskan Sebuah sintesis teori.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin kuat budaya literasi yang terintegrasi dengan saintifikasi ilmu-ilmu agama, maka semakin tinggi pula kualitas keilmuan dan karakter yang terbentuk. Semakin santri literat, maka akan semakin luhur keilmuan dan akhlaknya serta memberikan inspirasi dan kebaikan bagi orang lain. Sebab pengetahuan yang benar (marifah) akan menuntun pada tindakan yang benar (amal shalih), dengan hama Literasi Progresif. Penemuan penulis tentang teori Literasi Progresif sejalan dengan Harvey J. Graff, penelitian Olasehinde, John Dewey, Ahmad Sangid, Ali Muhdi, Muhammad Abdul Manan, dan Mahmudi Bajuri. Sebaliknya, pendapat penulis bertentangan dengan Hannah Arendt, Michel Foucault, Theodor W. Adorno, Max Horkheimer, Hasan Baharun, Lailatul Rizgiyah, dan Halimatus Saadah.

Lebih lanjut Ahmad Zuhdi mengatakan, dalam penguatan budaya leterasi seperti membaca, menulis, berdiskusi berdebat dari situ lahir konektif intelektual, kemudian bernalar dari proses konektif ini kemudian santri melakukan sertifikasi terhadap ilmu ilmu agama yang biasa diajarkan, seperti Thaharah (bersuci) dengan menggunakan debu apa manfaatnya, kemudian santri menggali ajaran-ajaran fikih, hadis yang biasa diajarkan, santri melahirkan obyektivitas sifat kedalaman ilmu, akhirnya santri memiliki kematangan ilmu dan menjadi Akhlakul karimah atau berbudi pekerti baik, ungkapnya.

Usai sidang, Rektor UIJ Prof. Raihan menegaskan bahwa Doktor Ahmad Zuhdi merupakan alumini ke 90, disertasinya memberi warna baru pada literasi di pesantren, dan diharapkan dengan adanya karya penelitian ini bisa menjembatani bagaimana pesantren-pesantren itu mendapatkan keilmuan sesuai era digitalisasi, ujarnya.

Sementara Ketua Prodi Program Doktor UIJ Prof. Dede Rosyada, mengungkapkan, disertasi Ahmad Zuhdi, sangat bagus literasinya dikembangkan literasi digital, dan wawasan anak-anak pesantren itu kedepan jauh lebih baik bisa juga dipakai oleh pesantren yang lain, bangsa ini diwarnai sebagai pejabat publik, PNS, pengusaha, sebagai politikus, bangsa ini lebih terwarnai oleh strata sosial.

Tim penguji sidang Doktor Pendidikan Agama Islam menyatakan Ahmad Zuhdi dinyatakan lulus dengan predikat cumlaude dan berhak menyandang gelar doktor Pendidikan Agama Islam.

Dalam sidang ujian tersebut, Ahmad Zuhdi diuji oleh tim penguji diantaranya, ketua Prof. Dr. Ir. Raihan, M.Si (Guru Besar / Rektor Universitas Islam Jakarta), Sekretaris Prof. Dr. Dede Rosyada, MA (Ketua Prodi Program Doktor Universitas Islam Jakarta), anggota Prof. Dr. Farhana, MPd (Guru Besar Universitas Islam Jakarta), Dr. Attabik Luthfi, MA (Dosen Tetap Universitas Islam Jakarta), Dr. Syahrullah, M.Pd.I (Dosen Tetap Universitas Islam Jakarta) serta Penguji Eksternal Prof. Dr. Ahmad Thib Raya, MA (Guru Besar Universitas Islam Negeri).

Penulis: Priyono
Editor: Priyono

Now Trending