KABAR | PENDIDIKAN

Usai Pertahankan Desertasi Promovendus Ahmad Rifai Raih Doktor PAI dari Universitas Islam Jakarta

SKIH / ISTIMEWA

Usai Pertahankan Desertasi Promovendus Ahmad Rifai Raih Doktor PAI dari Universitas Islam Jakarta

Didepan sidang Dewa Penguji Doktor Universitas Islam Jakarta, pada Sabtu, 20 September 2022 yang digelar di Aula Masjid Bab Al Rosyidi UID yang diantaranya Prof. Dr. Ir. Raihan, M.Si. (Rektor Universitas Islam Jakarta), Prof. Dr. Dede Rosyada, MA. (Kepala Prodi Program Doktor Universitas Islam Jakarta) serta anggota Penguji diantaranya Prof. Dr. Hj. Suriani, MA (Dosen Tetap Universitas Islam Jakarta), Dr. H. Hamdan Rasyid, MA (Dosen Tetap Universitas Islam Jakarta), Serta Dr. H. Atabik Luthfi, MA (Dosen Tetap Program Pascasarjana Universitas Islam Jakarta). Serta Penguji dari luar, Prof. Dr. H. Murodi, MA (Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta), akhirnya Promovendus Ahmad Rifai mampu meraih gelar Doktor PAI dari Universitas Islam Jakarta.

Usai Sidang, Rektor Universitas Islam Jakarta, Prof. Dr. Ir. Raihan, M.Si. juga mengaku bersyukur hari ini Mahasiswa program Doktor Pendidikan Agama Islam Universitas Islam Jakarta bisa menyelesaikan tepat waktu, yaitu Dr Ahmad Rifai sebagai lulusan ke 29, dan dengan karya penelitiannya diharapkan dapat membantu dunia pendidikan, khususnya dalam meningkatkan kompetensi Guru PAI.

Dimana Dr Ahmad Rifai dengan desertasinya telah melakukan penelitian serta memberikan masukan dengan merekonstruksi Kompetensi Spiritual Guru Pendidikan Agama Islam yang juga mengacu pada Keputusan Kementerian Agama nomor 211 tahun 2011, dengan memberikan tambahan-tambahan yang mungkin bisa jadi input bagi perubahan tersebut, dimana promovendus menekankan agar Guru Agama punya kemampuan Agama yang maksimal, dalam hal implementasi, karena apa yang dilakukan Guru akan dilihat peserta didik secara langsung.

Dan desertasinya juga memberikan tuntunan dengan bersumber Al-Ouran dan Al-Hadits, bagaimana seorang guru agama, harus menjalankan profesinya dan memenuhi kompetensinya, ungkap Prof Raihan.

Hal yang sama juga diungkapkan Kepala Prodi Program Doktor Universitas Islam Jakarta, Prof. Dr. Dede Rosyada, MA. bahwa karya penelitian Promovendus Ahmad Rifai sangat bagus, dimana dalam teruannya, bahwa selama ini divinisi, kriteria serta indikator tentang kompetensi spiritual masih kurang jelas,sehingga dengan desertasi ini ditemukan ada 41 indikator kompetensi spiritual, dan diuraikan secara detail dasar-dasarnya, sehingga karya penelitian Dr Ahmad Rifai akan sangat membantu pemerintah dalam meningkatkan kompetensi Guru Pendidikan Agama Islam di sekolah maupun madrasah, paparnya.

Sementara dalam penelitian tersebut, Promovendus melihat bahwa standar kompetensi Guru Pendidikan Agama Islam yang ada belum mengacu pada nilai spiritual yang ada pada Al-Ouran dan Al-Hadits, sehingga tujuan penelitian ini adalah untuk merekonstruksi kompetensi spiritual guru Pendidikan Agama Islam berdasarkan Al-Ouran dan Al-Hadits serta menyusun strategi peningkatan kompetensi spiritualnya.

Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dengan pendekatan hermeuneutika yang dikembangkan oleh Paul Ricoeur. Penggunaan metode ini sangat tepat sebab penelitian ini akan banyak mengkaji teks Al-Ouran dan Al-Hadits dan memberikan interpretasi terhadap teks-teks tersebut untuk didapatkan rekonstruksi kompetensi spiritual guru perspektif Al-Ouran dan Al-Hadits.

Hasil dari penelitian ini adalah rekonstruksi kompetensi spiritual guru PAI harus mengacu pada kompetensi spiritual yang ada dalam Al-Ouran dan Al-Hadits yang berjumlah 41 yaitu niat yang benar, iman, takwa, ikhlas, akhlak mulia, Tasamuh (toleransi), tanggung jawab, lembut, pemaaf, jujur, ramah, sabar, kasih sayang, berintegritas, tawadhu, zuhud, wara, adil, ridho, syukur, gonaah, tenang, berani, tafakkur, tawakal, Istigomah, yakin, mujahadah, muragabah, mahabbah, raja, khauf, malu, bijaksana, disiplin, tepat janji, dermawan, husnuzan, amanah, iffah dan ihsan.

Semua kompetensi spiritual tersebut kemudian diringkas menjadi tujuh kompetensi pokok yaitu Iman, Takwa, Ikhlas, Akhlak Mulia, Tasamuh, Tanggung Jawab dan Ridho. Berdasarkan tujuh kompetensi pokok tersebut maka kemudian disusunlah standar kompetensi spiritual guru PAI yang menjadi acuan dalam meningkatkan kompetensi spiritual guru PAI. Adapun strategi peningkatan kompetensi spiritual guru PAI bisa dilakukan dengan dua cara yaitu internal dan eksternal. Cara internal yaitu dengan meningkatkan minat baca Al-Ouran, Al-Hadits serta buku-buku tafsir, menghadiri majelis taklim, selalu merasa diawasi Allah dalam segala kondisi, menjalankan syariah secara komperhensif, dan banyak melakukan instrospeksi diri. Sedangkan cara eksternal yaitu peran kepala sekolah dalam merencanakan berbagai program untuk meningkatkan spiritualitas guru, serta peran pemerintah di dalam membuat regulasi dan kebijakan yang berorientasi pada peningkatan kompetensi Spiritual guru PAI. Penelitian ini menguatkan teori Piedmont yang menyatakan bahwa Spiritualitas sebagai rangkaian karakteristik motivasional. Dan merupakan antithesis terhadap teori Denny JA tentang masyarakat yang tingkat kesadaran beragamanya tinggi memiliki kecerdasan rata-rata lebih rendah dibandingkan masyarakat yang tingkat beragamanya rendah.

Sehingga dengan hasil penelitian ini, Pemerintah dapat kembali menyusun regulasi, yang mengerucut pada standar kompetensi spiritual, yang berdasarkan Al-Ouran, Al-Hadits, harapnya.(Red).

Penulis: Priyono
Editor: Priyono

Now Trending